A. Pendahuluan
Dalam proses perkembangan kebudayaan manusia, komunikasi massa menjadi proses dan bidang ilmu komunikasi yang mempunyai tingkat pengaruh yang cukup penting pada kehidupan manusia sehari-hari. Dapat dikatakan bahwa dalam perkembangan manusia, komunikasi massa memainkan peranan penting bagi perubahan dan dinamika sosial manusia. Tayangan TV tentang kasus skandal seks dalam konteks komunikasi massa, lebih merupakan inti yang disesuaikan dengan kerangka acuan yang dipertimbangkan agar peristiwa itu memiliki makna bagi para pembacanya. Sebuah contoh kasus yang mau ditelaah adalah pemberitaan skandal seks yang dilakukan olek oknum DPR dengan penyanyi dangdut yang sempat mengguncang dan mampu mengundang wacana moralitas politik di indonesia. Berita yang berkembang dimedia cetak atau pun elektronik adalah bahwa oknum DPR telah terekam kegiatan seksualnya bersama seorang perempuan. Kemudian pemberitaan yang berkembang dimasyarakat adalah bahwa penetrasi kegagalan moralitas sampai dikalangan elit terhormat semacam anggota parlemen Indonesia. Pemberitaan tersebut mempunyai dampak politik moral yang sangat memalukan Sebuah kontradiksi ketika seseorang pejabat politik dengan atribut ketua bidang kerohanian akhirnya jatuh pada masalah dekadensi moral dalam hal ini skandal seks murahan.
Media yang seharusnya menjadi sarana informasi bagi masyarakat untuk menambah pengetahuan justru sebaliknya media terkadang mengabaikan peraturan yang berlaku dalam menyiarkan program-programnya, hal ini disebabkan karena media hanya mencari keuntungan semata sehingga media tidak memperdulikan lagi apakah program-program tersebut (terutama yang berisi kandungan kekerasan, seks, dan misteri akan memberikan dampak buruk atau baik bagi para konsumennya. Saat ini para konsumen (masyarakat) sangat mudah untuk mendapatkan informasi dari media-media cetak ataupun elektronik , karena media pada umumnya mengemas informasi, hiburan , berita, iklan dan lain sebagainya. Dengan menampilkan hal-hal yang dapat membuat para konsumennya untuk mengikuti perilaku ataupun gaya yang mereka tampilkan, baik hal itu dinilai posif atau pun negatif , sehingga acara tersebut lebih mengarah pada para konsumen untuk lebih konsumtif, dan mengikuti perilaku mereka yang lebih menjerumus kearah perilaku anti sosial, seperti kekerasan, pemerkosaan, pornografi, sikap yang mengejek terhadap orang lain dan lain sebagainya. Pergeseran nilai-nilai agama serta moral telah sudah menjadi momok bagi masyarakat kita, dan media merupakan salah satu penyebab utama dalam hal ini. Para pengusaha di media sepertinya menutup mata atas perilaku anti sosial yang terjadi dalam masyarakat. Karena para pengusaha hanya mengutamakan keuntungannya saja.
B. Rumusan masalah Masalah-masalah sosial dan media massa
Dalam hal ini penulis mengambil contoh tentang pelecehan seks sual dan pornomedia. Pornografi memunyai empat efek psikologis bagi mereka yang melihatnya. Keempat efek tersebut menuju pada perilaku seks yang tidak sehat dan menyimpang kepada mereka yang menikmatinya. Direktur Media Watch Ade Armando mengungkapkan hal tersebut dalam Seminar Fenomena dan Teror Pornografi dalam Media Massa di Jakarta, sebagaimana dikutip harian Media Indonesia. Menurut Ade Armando, efek tersebut adalah kecanduan (addiction), peningkatan kebutuhan (escalation), materi yang semula tampak immoral perlahan-lahan menjadi hal yang biasa (desensitivization), dan perilaku seks promiskuitas seperti memaksa dan memerkosa serta sodomi (act out sexually). Efek kecanduan, menurut dia, seseorang sekali melihat gambar atau film porno akan ingin melihat lagi. Efek kedua, eskalasinya akan meningkat, yang mulanya hanya membaca lalu melihat gambar, selanjutnya ingin menyaksikan gambar yang bergerak seperti VCD porno. Bila orang terus-menerus mengonsumsi film-film porno, maka dia yang mulanya melihat perilaku seks bebas sebagai hal yang tabu, maka lama-kelamaan perilaku itu jadi biasa saja.
Puncak dari perilaku orang yang sering mengonsumsi film-film porno adalah perilaku seks menyimpang. Misalnya, baru puas bermain seks setelah berhubungan badan dengan cara-cara yang tidak lazim, seperti dipukul, diikat, atau dicambuk. "Mereka seakan baru puas setelah perempuannya disiksa, seperti dalam kebanyakan isi film-film pornografi yang beredar ilegal di Indonesia," tegasnya. Efek dari pornografi ini, menurut dia, secara keseluruhan akan menjadikan masyarakat Indonesia tergolong masyarakat aktif seksual. "Namun, celakanya aktifnya di luar nikah, seperti di beberapa negara Barat," Tegasnya. Akhir-ahir ini sedang diperdebatkan tentang perlu-tidaknya Undang-Undang Anti pornografi dan porno aksi. Wacana ini memang telah membelah opini masyarakat menjadi dua kelompok: kubu pengecam pornografi yang menghendaki pembatasan sajian gambar dan foto sensual; sementara itu kubu yang lain menolak pembatasan ini karena dianggap memasung kreativitas. Sayangnya, hingga saat ini belum ada rumusan yang dapat dipakai untuk menakar kadar pornografi yang disajikan oleh media massa.
Akibatnya kita kesulitan menentukan apakah sebuah gambar, tulisan atau pertunjukkan itu masih dapat dipahami dan dinikmati sebagai produk kesenian atau sudah mengarah kepada percabulan.
Pada mulanya memang porno media berada pada kondisi yang melawan tatanan sosial yang ada berdasarkan struktur sosial masyararakat yang mana dalam masyarakat tersebut melindungi seks dan aurat tersebut dalam bingkai norma tertutup dan memiliki nilai yang mulia dalam keluarga, masyarakat dan agama. Ketika seseorang terlepas dari nilai-nilai tersebut maka akan menuju kesebuah tatanan sosial yang baru yang meninggalkan tatanan nilai sosial yang lama yang akhirnya akan mengarah kepergaulan bebas yang terlepas dari norma-norma masyarakat, agama, bahkan negara.
Dari pengamatan kami ketika sebuah tayangan pornomedia ditayangkan oleh media massa, maka seakan khalayak akan terbangun atau terkonstruksi dengan penayangan pornomedia itu. Hal ini dikarenakan bahwa media massa mampu memberikan daya tarik dan mampu menyakinkan khalayak dengan terpaannya yang menyebar kemana-mana tanpa adanya perbedaan umur pada khalayak tersebut.
Akibat Tayangan Pornografi
Pornografi di Indonesia sudah mengancam masa depan anak-anak dan remaja. Banyak kerusakan moral sebagai dampak dari pornografi. Fakta di lapangan menunjukan pelanggaran hukum yang terjadi pada anak-anak sebagai akibat dari pornografi. Demikian halnya pelanggaran media yang berdampak pada anak juga akibat pornografi. Dari berbagai kasus tindak pidana pelecehan anak-anak adalah korban utama dari kekerasan sexual yang dialaminya. Bahkan dalam beberapa kasus, pelaku penyimpangan sexual juga anak-anak.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI REAKSI KHALAYAK PADA KOMUNIKASI MASSA
A. Perubahan khalayak ketika media menjadi salah satu alat produksi dalam sebuah desa yang dianggab pada tahun 1980 merupakan desa-desanya orang-orang santri ataupun desanya orang-orang yang di anggab militan terhadap agama. di mana masih banyak di rasakan ramainya anak-anak kecil yang pergi ke masjid pada setiap sorenya, masih ramainya kegiatan-kegiatan remaja masjid, dan masih sering kita lihat bahwa banyak orang tua yang sedang berdjikir pada setiap sorenya.
Semua yang di lakukan ini menjadi berubah ketika perkembangan media di suatu kota ataupun Negara menjadi lebih canggih dan lebih menjalar ke seluruh plosok. Ketika awal tahun 1980 munculnya TV yang mampu mempengaruhi perubahan sikap dan prilaku pada khalayak hingga menjadikan penghancuran moral pada setiap insan.
Ini dapat kita asumsikan bahwa ketika media semakin berkembang, maka akan semakin banyak pula khalayk yang malas dan tak mempedulikan khlayak lain. Yang dulu masih sering kita lihat anak-anak kecil yang bermain di masjid sambil menunggu adzan magrib, sekarang telah musnah dan lebih memilih menyaksikan tayangan TV yang di anggab menarik.
Dulu masih banyaknya anak muda yang melakukan sebuah kegiatan contohnya remaja masjid sekarang telah punah, dan menjadi kegiatan yang tidak karuan. Lebih banyak yang nongkrong di pinggir jalan, sambil merokok, dan lain-lain.
Semua yang terjadi ini di karenakan salah satu perubahan sikap dan prilaku yang terjadi yang di karenakan oleh media massa yang telah mempengaruhinya. Media lebih cenderung menunjukan beberapa adegan yang di anggab berkembang dan tren untuk di ikuti, namun media tidak dapat memahami kondisi masyarakat.
Ketika media ingin menggunakan strategi mencari respon, maka media di haruskan mampu membuat sebuah jebolan baru untuk membuahkan hasil yang lebih dalam sebuah usaha.
Namun kebnayakan media enggan memahami perubahan, yang terjhadi sekarang ini hanyalah prilaku komersil yang di anggab akan membahagiakan perusahaannya sendiri.
Namun perlu kita sadari bahwa media memiliki misi yang berbeda-beda, ketika media menjadi salah satu alat revolusi Negara, dan media sebagai salah satu alat komersil yang tidak memandang efek dari publicasi media tersebut.
B. Idealnya media ketika di jadikan salah satu alat perkembangan berfikir khalayak
Pada umumnya media massa adalah salah satu alat revolusi yang mampu mengubah sikap dan prilaku khalayak. Ketika kita pahami khalayak adalah salah satu hal yang terpenting bagi Negara, karena ketika khalayak memiliki pandangan yang positif maka perkembangan akan lebih cenderung positif, namun ketika khalayak negatif, maka perkembangan yang terjadipun akan negatif.
Ketika kita bahas ideal, maka ini adalah hal-hal yang di anggap sebagai hal yang berguna bagi khalayak, bergunannya di pahami sebagai hal-hal yang positif. Ketika media di gunakan sebagai salah satu alat transfortasi pengetahuan, dan banyak yang menggunkana media sebagai salah satu pertarungan nalar piker.
Maka di anggab pertarungan media akan berpengaruh terhadap khalayak. Ketika media menggunakan beberapa tehnik perkembangan darti cara berfikir khalayak maka khalayak akan di anggap pintar dan memahami realitas yang ada. Namun ketika media ini menunjukan perkembanagan sebuah globalisasi terhadap khalayak, maka khalayak akan cepat mengikutinya walau mereka tidak pernah memikirkan bagaimana efek dari semua itu. Karena di anggab perkembnagan itu ada waktu dan tempatnya.Apa yang kita pahami tentang perkembangan berfikir merupakan salah satu perkembnagan intelektual terhadap khalayak. Perkembangan yang mampu memberikan khalayak cara berfikir yang positif dalam sebuah perkembangan media.
Kita tidak dapat memahami media ketika kita memahaminya dari sebelah mata. Banyak media yang dikatakan sebagai alat yang komersil, dan bamyak juga yang mengatakan media sebagai alat revolusi Negara.
KESIMPULAN
Ini menjelaskan bahwa media sangat berpengaruh atas prilaku khalayak, ketika media menunujukan sebauh tren baru maka khalayak akan banyak yang mengikutinya.
Pribahan sikap ini di karenakan oleh pemahaman masyartakat yang berbeda-beda, ketika khalayak menjadikan media sebagai salah satu tuntutan, maka akan menjadi hal-hal yang di anggap negatif ketika kita mengikutinya pada tempat dan waktu yang berbeda.
Maksud dari waktu dan tempat di sini adalah, ketika tempat yang kita tempati ini merupakan tempat yang tepat dan memang memiliki khalayak yang berpegangan terhadap tren maka akan terasa biasa, namun ketika perkembnagan itu di lakukan di sebuah desa yang di anggap santri atau beriman. Maka kita harus bias memberikan sikap dan prilaku kita terhadap keadaan yang ada.
1. Komponen-komponen Komunikasi Massa
- Devinisi Harol Laswell tentang komponen-komponen penting dalam komunikasi massa adalah sebagai berikut:
Sumber ( Source )Pihak yang berinisiatif atau berkebutuhan untuk berkomunikasi, bisa seorang individu, kelompok, organisasi, perusahaan, dll.
- Pesan (Massage) : Apa yang dikomunikasikan oleh sumber kepada penerima. Pesan merupakan seperangkat symbol verbal dan/ atau nonverbal yang mewakili perasaan, nilai, gagasan atau maksud sumber tadi.
- Saluran/Media (Channel) : alat/ wahana yang digunakan sumber untuk menyampaikan pesannya kepada penerima.
- Penerima (Receiver) : Orang yang menerima pesan dari sumber. Berdasarkan pengalaman masa lalu, rujukan nilai, pengetahuan, persepsi, pola pikir dan perasaan. Penerima pesan ini menerjemahkan/ menafsirkan seperangkat symbol verbal dan/ atau non verbal yang ia terima menjadi gagasan yang dapat ia pahami.
- Efek (Effect) : Apa yang terjadi pada penerima setelah ia menerima pesan tersebut.
2. Ciri-ciri Komunikasi Massa
a. sifat pesan terbuka
b. khalayak variatif (baik dari segi usia, agama, suku, pekerjaan, maupun dari segi kebutuhan.
c. sumber dan penerima dihubungkan oleh saluran yang diproses secara mekanik
d. sumber merupakan suatu lembaga atau institusi
e. komunikasi berlangsung satu arah
f. umpan balik lambat (tertunda) dan sangat terbatas.
g. sifat penyebaran pesan yang berlangsung cepat dan serempak serta luas maupun mengatasi jarak dan waktu
h. dari segi ekonomi biaya untuk memproduksi komunikasi massa cukup mahal dan memerlukan dukungan tenaga kerja yang relative banyak untuk mengelolanya.
Ciri-ciri komunikasi massa, menurut Elizabeth Noelle Neumann (dalam Jalaluddin Rakhmat, 1994) adalah sebagai berikut:
1. Bersifat tidak langsung, artinya harus melalui media teknis;
2. Bersifat satu arah, artinya tidak ada interaksi antara peserta-peserta komunikasi;
3. Bersifat terbuka, artinya ditujukan pada publik yang tidak terbatas dan anonim;
4. Mempunyai publik yang secara tersebar.
Pesan-pesan media tidak dapat dilakukan secara langsung artinya jika kita berkomunikasi melalui surat kabar, maka komunike kita tadi harus diformat sebagai berita atau artikel, kemudian dicetak, didistribusikan, baru kemudian sampai ke audien.
3. Bentuk-bentuk Komunikasi Massa
Komunikasi massa selalu berkaitan dengan beberapa bentuk alternatif hubungan komunikasi, yang hadir secara berdampingan dalam satu kesatuan yang kompleks. Semua alternative tersebut dapat diklasifikasikan kedalam tiga bentuk hubungan komunikasi sebagai berikut
a. Bentuk Perintah (the command mode)
yaitu bersumber dari adanya perbedaan kekuasaan dan otoritas antara pengirim dengan penerima. Pengirim berada pada posisi lebih rendah dan bergantung, yang tujuannya untuk melakukan control dan perintah, hubungannya bersifat satu arah, tidak setara, dan tidak berdasar sukarela.
b. Bentuk Pelayanan (the service mode )
yaitu hubungan antara pengirim dan penerima diikat dengan kepentingan bersama dalam situasi pasar atau semacamnya
c. Bentuk Asosiasi ( the association mode )
yaitu memiliki ikatan normative atau nilai-nilai yang disepakati bersama, yang mendekatkan kelompok atau public tertentu terhadap sumber media tertentu pula. Sedangkan Bentuk-bentuk komunikasi massa atau media komunikasi antara lain:
1) Pers cetak
Bentuk yang satu ini memiliki ciri khas dibanding media massa lainnya. Meskipun merupakan media cetak, namun khalayak yang diterpa bersifat aktif.
2) Radio
Radio merupakan media massa elektronik yang bersifat audio (didengar).
3) Televisi
Media ini merupakan bentuk komunikasi massa yang paling populer. Televisi memiliki kelebihan dari media massa lainnya, yaitu bersifat audio visual (didengar dan dilihat), sehingga pengaruh yang disebarkan makin besar pula serta lebih efektif.
4) Film bioskop
Media ini memiliki fungsi dan sifat mekanik/nonelektronik, rekreatif, edukatif, persuasif atau noninformatif.
5) Internet
Internet merupakan media baru dimana khalayak dapat memilih sesuka hati informasi yang mereka sukai. Internet merupakan media massa, meskipun bersifat interaktif.
Daftar Pustaka
•McQuail, Denis .Teori Komunikasi Massa ,Erlangga. Jogja. 1996
•Winarso, Heru Puji. Sosiologi Komunikasi Massa, Prestasi Pustaka. Jakarta. 2005
•http://adiprakosa.blogspot.com/2008/09/pengertian-komunikasi-massa-mt-komassa.html
•http://nicksinblossom.blogspot.com/2007/10/komunikasi-massa.html



Tidak ada komentar:
Posting Komentar